Pada zaman dahulu, di sebuah desa. hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok sirni. Setiap hari mbok sirni mengumpulkan kayu di hutan dekat rumahnya. Suatu hari mbok sirni sudah mulai kelelahan.
Mbok S:“ Huvh.. seandainya aku mempunyai seorang anak yang bisa membantuku, pasti aku tidak akan sampai selelah ini!”
Tiba-tiba bumi bergetar
Raksasa:”Hahaha, mbok sirni, tadi aku mendengar suaramu yang berisik sekali hingga mangganggu tidur siangku. Aku dengar kau ingin punya anak ?”
Mbok S:”Iya betul raksasa, maafkan aku telah menganggumu”
Raksasa:”Aku bisa memberimu anak, tapi aku mempinyai satu syarat, yaitu kau hanya dapat merawat anak itu selama 17 tahun saja. Setelah itu anakmu akan menjadi santapanku, hahahaha, bagaimana kau setuju?”
Mbok S:”Kenapa raksasa? Aku tidak tega memberikan anakku untuk menjadi santapanmu, aku ingin merawat anak itu selamanya”
Raksasa:”kalu kau tidak mau tak apa, tapi kau tidak akan mempunyai anak selamanya”
Mbok Sirni terdiam.
Raksasa:”Baiklah aku beri kau waktu 2 hari saja untuk memikirkan jawabanmu setelah itu aku akan mendatangi rumahmu untuk menagih jawabanmu”
Mbok S:”terimakasih raksasa”
Mbok sirni pulang kerumah dengan wajah bingung. Di rumah, mbok Sirni terus memikirkan hal ini hingga tidak bisa tidur.
Mbok S:”Bagaimana ini? Aku sangat ingin punya anak, tapi setelah umur 17 tahun anakku akan menjadi santapan raksasa itu”
2 haripun berlalu, raksasa datang untuk menagih jawaban dari mbok sirni.
Raksasa:”mbok sirni bagaimana jawabanmu?”
Mbok S:”ya saya setuju raksasa”
Raksasa:”terimakasih mbok sirni telah menyetujui, ini adalah biji mentimun, tanamlah biji ini dan rawatlah dengan baik.2 bulan kemudian biji ini akan berbuah. Tapi kau masih ingat syaratku?”
Mbok S:”iya saya masih ingat, terimakasih raksasa”
Raksasa pergi meninggalkan mbok Sirni. Dengan semangat dan penuh harap, mbok Sirni menanam biji itu sesuai petunjuk raksasa.
Mbok S:”mudah-mudahan biji ini tumbuh menjadi anak yang baik”
2 bulan kemudian mbok Sirni mendapatkan keajaiban, biji mentimun yang ditanamnya telah berbuah menjadi seorang bayi wanita yang sangat lucu dan imut. Tahun demi tahun berganti, ketakutan mbok Sirni semakin menjadi. Lalu mbok Sirni teringat bahwa di gua dekat desanya ada seorang pertapa yang sangat baik dan sakti.
Mbok S:”maaf pertapa, apa saya dapat berbicara sebentar?”
Pertapa:”Ada apa mbok?”
Mbok S:”Saya sedang barada dalam bahaya, anak saya akan dimakan raksasa pada umurnya yang ke17 tahun nanti, sedangkan tinggal 1 hari lagi dia akan ulang tahun”
Pertapa:”baiklah, bawalah kantung ini”
Mbok S:”kantung apa ini?”
Pertapapun menjelaskan isi dan kegunaan kantung itu. Mbok Sirni langsung pulang dan memberi tahu kepada timun emas akan hal ini. Keesokan harinya bumi nampak bergetar.
Raksasa:”hahaha, mbok sirni aku ingin menagih janji”
Mbok S:”Tapi sekarang timun emas sedang pergi, tunggu sebentar ya!”
Setelah beberapa lama menunggu timun emas tidak datang juga. Raksasa marah karena merasa sudah dibohongi. Lalu Raksasa pergi mencari Timun emas. Tapi kemudian raksasa hampir berhasil menagkap timun emas yang ditemani oleh tetangganya.
Raksasa:”Mau lari kemana kamu timun emas?”
Tetangga:” timun cepat lemparkan cabai ke tanah”
Timun Emas:”baiklah”
Seketika itu cabai yang di lemparkan timun emas ke tanah menjadi pohon dengan ranting yang berduri, raksasa berteriak kesakitan.
Raksasa:”tolong, Awas kamu timun emas kau akan langsung ku santap”
Timun Emas:”Maafkan aku raksasa”
Tetangga:” timun ayo cepat”
Raksasapun berhasil lolos dari pohon berranting duri itu dan kembali mengejar timun emas.
Timun Emas:” Wah bagaimana ini, raksasa itu sudah dekat”
Tetangga:” Cepat lemparkan terasi udang itu”
Timun Emas:”o iya, baiklah”
Tetangga:” Cepat timun”
Timun emas segera melemparkan terasi udang ke arah raksasa, seketika itu pula terhampar sebuah danau lumpur yang menghisap tubuh raksasa. Akhirnya raksasa meninggal. Timun emas berterimakasih pada sahabatnya.
Timun Emas:” Terimakasih sahabatku, kau telah menemaniku untuk melawan raksasa jahat itu”
Tetangga:” Sama sama, itulah yang namanya seorang sahabat menemani di saat senang dan sedih”
Mereka bersyukur kepada Allah karena akhirnya mereka dapat hidup bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar